Rabu, 11 Desember 2013

THE SIXTH ASSIGNMENT (PROVERBS AND IDIOMS)


ASSINGMENT 6
TRANSLATING IDIOMS AND PROVERBS
 INTO BAHASA

NO

PROVERBS


MEANING
1.
Actions speak louder than words.

Tindakan lebih bermakna dari pada hanya sekedar ucapan
2.
All that glitters is not gold.

Tidak semua kegermelapan adalah kebahagiaan

3.
The apple doesn't fall far from the tree.

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga
4.
Barking dogs seldom bite.

Air beriak tanda tak
Dalam
5.

Better late than never
Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali

6.
The bigger they are, the harder they fall.

Semakin besar keinginan yang ingin dicapai semakin besar pula rintangan yang menghadang

7.
A bird in the hand is worth two in the bush
Lebih baik mempertahankan apa yang telah dimiliki dari pada menuntut lebih dengan resiko kehilangan semua yang telah dimiliki

8.
Birds of a feather flock together

Orang- orang yang memiliki kesamaan karakter atau kesukan akan suka berkumpul bersama-sama

9.
Clothes do not make the man.

Jangan menilai sesuatu hanya dari luar atau penampilan saja
10.
Don't bite off more than you can chew
Mencoba hal yang lebih dari kemampuan kita tidak ada salahnya

NO
IDIOMS

MEANING
1.

more by accident than by design

Sesuatu hal yang terjadi karena keberuntungan bukan karena kemampuan

2.

add fuel to the flames

Membuat masalah menjadi lebih parah, kacau, dan runyam

3.
in black and white

Keadaan dimana suatu hal ditulis ataupun diketik, bisa juga berarti dibukukan atau diagendakan

4.
black mood

Pada suasana hati yang kacau
5.
eat someone alive

Mengkritik seseorang dengan sangat kasar

6.
face that would stop a clock

Seseorang yang sangat buruk rupa sehingga seakan ketika dimana ia berada membuat orang lain selalu memperhatikanya

7.
look like a million dollars

Mendapatkan keadaan yang sangat mengungtungkan

8.
catch someone's eye

Mencoba menarik perhatian dari sesorang

9.

in the eyeof the storm

Suatu ketenangan pada keadaaan yang carut marut
10.

hang up one's boots

Menggantungkan hidup pada orang lain

Senin, 02 Desember 2013

THE FIFTH ASSIGNMENT (RESUME OF 3 ARTICLES)



                                       MASALAH- MASALAH PADA PENERJEMAHAN


Setelah saya membaca 3 buah artikel dari sumber yang berbeda, maka berikut ini adalah ringkasan dari sedikit uraian yang dapat saya tulis berkaitan dengan penerjemahan. Semoga ini bermanfaat bagi saya dan pembaca, dan untuk melihat artikel secara utuh, silakan mengakses sumber yang tertera.
 1. Kesalahan Kecil pada Penerjemahan yang Menyebabkan Masalah Besar 

Menurut Arika Okrent, suatu kesalahan pada proses atau-pun hasil dari penerjemahan merupakan sesuatu yang sangat fatal, berikut adalah beberapa contoh kasus kesalahan kecil pada penerjemahan yang menimbulkan masalah besar:
1.      70 kata untuk satu juta dolar
Kasus ini terjadi pada seorang penerjemah yang salah menyebutkan suatu diagnosa penyakit seorang pasien kepada seorang dokter, sehingga sang pasien mendapat penanganan yang salah atau mal-praktik hingga menelan biaya satu juta dolar.
2.      Keinginan kuat di masa depanmu
Hal ini sangat fatal yang terjadi pada seorang presiden Rusia. Ia bermaksud berbagi cerita tentang perjalanannya ke Polandia. Ketika ia ingin mengatakan “ketika saya meninggalkan US”, tapi dia mengatakan dengan kalimat yang tidak tepat, yaitu “ ketika saya menyerah kepada US”, tentu saja hal ini sangat tidak sesuai dengan konteks kalimat yang ingin disampaikan.
3.      Kita akan menguburmu
Orang penting dari Rusia yang salah mengintepretasikan kalimat dari bahasa Rusia ke dalam bahasa inggris, sehinga kalimat itu-pun menjadi “kita akan menguburmu”, jelas kata ini sangat mengancam dan menghawatirkan untuk dikatakan dalam sebuah pidato penting Negara. 
4.      Tanpa tindakan
Hal ini terjadi pada kasus sebuah bank HCBS ketika ingin mempromosikan dirinya dengan salah satu kata tertera yang berarti “tanpa beban” diterjemahkan menjadi kata “tanpa tindakan”, yang menjadikan para pelanggan bank tidak yakin akan kinerja  mereka.

2. Masalah Kebahasaan pada Penerjemahan

Menurut William R. Schalsteig, ketika kita akan menerjemahkan teks ke dalam bahasa lain, kita harus membaca teks sumber berulang kali sehingga akan mampu megintepretasikan teks tersebut dengan baik dan benar. Hal ini dikarenakan pada teks sumber terdapat beberapa ekspresi kalimat penulis yang mungkin akan berbeda interpretasi-nya dengan interpretasi penerjemah, yang lebih lagi, di dalam teks sumber terdapat nilai kebudayaan yang mungkin berbeda dengan unsur budaya bahasa tujuan. Jika kita mendapati seperti contohnya adalah rangkaian kalimat yang pendek pada teks sumber yang jika kita terjemahkan pada bahasa tujuan menjadi sangat panjang dan tidak efisien atau bahkan mengurangi nilai pemahaman pembaca terhadap kalimat itu, maka kita sebagai penerjemah harus mencari kata-kata yang memiliki interpretasi terdekat dengan kata-kata pada teks sumber. Jangan kita menerjemahkan kalimat tadi secara literal atau kata demi kata, namun terjemahkan lah secara meaning atau makna yang ter surat maupun ter sirat.
Hal selanjutnya jika kita mendapati suatu penjelasan budaya dari teks sumber, maka kita sebagai penerjemah harus mencari unsur dari budaya kita yang terdekat ketetapannya dengan penjelasan budaya teks sumber tersebut. Bahkan mungkin kita menerjemahkan suatu kata dari teks sumber ke dalam kata lain yang tidak ada kaitannya dengan kata yang seharusnya diterjemahkan, namun sejauh ini tidak mengubah interpretasi pembaca, maka ini yang terbaik. Untuk lebih menguasai dalam interpretasi teks sumber berkaitan dengan unsur budaya ada baiknya kita membaca sedikit tentang budaya teks sumber.

3. Unsur Budaya dan Kebahasaan yang Terdapat pada Penerjemahan Suatu Cerita Pendek “The Cock Fight”

Kesimpulan dari studi berikut yang menganalisis unsur budaya dan unsur kebahasaan yang terdapat pada hasil penerjemahan cerita pendek “the cock fight”. Hasil studi menyebutkan bahwa, bahwasanya bahasa seperti negara yang melibatkan unsur-unsur budaya di dalamnya. Hal ini meliputi cara atau adat, agama, kebiasaan, dsb. Sehingga dalam kegiatan penerjemahan tidak sesederhana hanya mengerti unsur kebahasaan saja. Penerjemahan unsur budaya menjadi sangat penting seperti halnya ketika kita menerjemahkan unsur-unsur seperti, vocab, tata penulisan, grammar, dsb.

Ketidak pemahaman seorang penerjemah terhadap unsur kebudayaan teks sumber akan mengakibatkan masalah yang fatal, yang bisa menjadikan teks hasil penerjemahan akan sulit dipahami oleh pembaca.  Jadi sangat penting mengetahui kebudayaan teks sumber sebelum melakukan proses penerjemahan.


Read the full text here:
 
http://mentalfloss.com/article/48795/9-little-translation-mistakes-caused- big-problems#ixzz2mMm1mFmF 
http://www.lituanus.org/1969/69_3_01.htm
https://www.google.com/search?q=cultural+and+linguistic+issues+in+translation+of+fiction+"the+cock+fight"&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.moz