MASALAH- MASALAH PADA PENERJEMAHAN
Setelah saya membaca 3 buah artikel dari sumber yang berbeda, maka berikut ini adalah ringkasan dari sedikit uraian yang dapat saya tulis berkaitan dengan penerjemahan. Semoga ini bermanfaat bagi saya dan pembaca, dan untuk melihat artikel secara utuh, silakan mengakses sumber yang tertera.
Setelah saya membaca 3 buah artikel dari sumber yang berbeda, maka berikut ini adalah ringkasan dari sedikit uraian yang dapat saya tulis berkaitan dengan penerjemahan. Semoga ini bermanfaat bagi saya dan pembaca, dan untuk melihat artikel secara utuh, silakan mengakses sumber yang tertera.
1. Kesalahan
Kecil pada Penerjemahan yang Menyebabkan Masalah Besar
Menurut
Arika Okrent, suatu kesalahan pada proses atau-pun hasil dari penerjemahan
merupakan sesuatu yang sangat fatal, berikut adalah beberapa contoh kasus
kesalahan kecil pada penerjemahan yang menimbulkan masalah besar:
1.
70 kata untuk satu juta dolar
Kasus
ini terjadi pada seorang penerjemah yang salah menyebutkan suatu diagnosa penyakit
seorang pasien kepada seorang dokter, sehingga sang pasien mendapat penanganan
yang salah atau mal-praktik hingga menelan biaya satu juta dolar.
2.
Keinginan kuat di masa depanmu
Hal
ini sangat fatal yang terjadi pada seorang presiden Rusia. Ia bermaksud berbagi
cerita tentang perjalanannya ke Polandia. Ketika ia ingin mengatakan “ketika saya
meninggalkan US”, tapi dia mengatakan dengan kalimat yang tidak tepat, yaitu “
ketika saya menyerah kepada US”, tentu saja hal ini sangat tidak sesuai
dengan konteks kalimat yang ingin disampaikan.
3.
Kita akan menguburmu
Orang
penting dari Rusia yang salah mengintepretasikan kalimat dari bahasa Rusia ke
dalam bahasa inggris, sehinga kalimat itu-pun menjadi “kita akan menguburmu”,
jelas kata ini sangat mengancam dan menghawatirkan untuk dikatakan dalam sebuah
pidato penting Negara.
4.
Tanpa tindakan
Hal
ini terjadi pada kasus sebuah bank HCBS ketika ingin mempromosikan dirinya
dengan salah satu kata tertera yang berarti “tanpa beban” diterjemahkan menjadi
kata “tanpa tindakan”, yang menjadikan para pelanggan bank tidak yakin akan
kinerja mereka.
2. Masalah
Kebahasaan pada Penerjemahan
Menurut
William R. Schalsteig, ketika kita akan menerjemahkan teks ke dalam bahasa lain,
kita harus membaca teks sumber berulang kali sehingga akan mampu megintepretasikan
teks tersebut dengan baik dan benar. Hal ini dikarenakan pada teks sumber
terdapat beberapa ekspresi kalimat penulis yang mungkin akan berbeda interpretasi-nya dengan interpretasi penerjemah, yang lebih lagi, di dalam teks sumber
terdapat nilai kebudayaan yang mungkin berbeda dengan unsur budaya bahasa
tujuan. Jika kita mendapati seperti contohnya adalah rangkaian kalimat yang
pendek pada teks sumber yang jika kita terjemahkan pada bahasa tujuan menjadi
sangat panjang dan tidak efisien atau bahkan mengurangi nilai pemahaman pembaca
terhadap kalimat itu, maka kita sebagai penerjemah harus mencari kata-kata yang
memiliki interpretasi terdekat dengan kata-kata pada teks sumber. Jangan kita
menerjemahkan kalimat tadi secara literal atau kata demi kata, namun terjemahkan lah secara meaning atau makna yang ter surat maupun ter sirat.
Hal
selanjutnya jika kita mendapati suatu penjelasan budaya dari teks sumber, maka
kita sebagai penerjemah harus mencari unsur dari budaya kita yang terdekat ketetapannya dengan penjelasan budaya teks sumber tersebut. Bahkan mungkin kita
menerjemahkan suatu kata dari teks sumber ke dalam kata lain yang tidak ada
kaitannya dengan kata yang seharusnya diterjemahkan, namun sejauh ini tidak
mengubah interpretasi pembaca, maka ini yang terbaik. Untuk lebih menguasai
dalam interpretasi teks sumber berkaitan dengan unsur budaya ada baiknya
kita membaca sedikit tentang budaya teks sumber.
3. Unsur
Budaya dan Kebahasaan yang Terdapat pada Penerjemahan Suatu Cerita Pendek “The
Cock Fight”
Kesimpulan
dari studi berikut yang menganalisis unsur budaya dan unsur kebahasaan yang
terdapat pada hasil penerjemahan cerita pendek “the cock fight”. Hasil studi
menyebutkan bahwa, bahwasanya bahasa seperti negara yang melibatkan
unsur-unsur budaya di dalamnya. Hal ini meliputi cara atau adat, agama,
kebiasaan, dsb. Sehingga dalam kegiatan penerjemahan tidak sesederhana hanya
mengerti unsur kebahasaan saja. Penerjemahan unsur budaya menjadi sangat
penting seperti halnya ketika kita menerjemahkan unsur-unsur seperti, vocab, tata
penulisan, grammar, dsb.
Ketidak pemahaman seorang penerjemah terhadap unsur kebudayaan teks sumber akan
mengakibatkan masalah yang fatal, yang bisa menjadikan teks hasil penerjemahan
akan sulit dipahami oleh pembaca. Jadi
sangat penting mengetahui kebudayaan teks sumber sebelum melakukan proses
penerjemahan.
Read the full text here:
http://mentalfloss.com/article/48795/9-little-translation-mistakes-caused- big-problems#ixzz2mMm1mFmF
http://www.lituanus.org/1969/69_3_01.htm
https://www.google.com/search?q=cultural+and+linguistic+issues+in+translation+of+fiction+"the+cock+fight"&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.moz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar